SIDOARJO || JDN – Kondisi Muhammad Izzan Dwi Arifianto (7), bocah yang menderita luka bakar hingga 46 persen akibat insiden kebakaran setahun lalu, kembali mendapat perhatian serius. Setelah sempat terhenti melakukan kontrol medis sejak Januari lalu, Izzan kini kembali menjalani perawatan intensif di ruang isolasi combustio (luka bakar) RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo.
Kondisi memprihatinkan bocah yang telah kehilangan ibu dan kakaknya dalam tragedi kebakaran tersebut memicu respons cepat dari Bupati Sidoarjo, H. Subandi. Ia menjenguk langsung Izzan di rumah sakit pada Selasa (16/6/2026).
”Saya pribadi sebagai pimpinan daerah sangat prihatin melihat kondisi ananda Muhammad Izzan. Mudah-mudahan dengan uluran tangan pemerintah daerah, anak usia tujuh tahun ini ditangani dengan baik,” ujar Subandi saat memberikan keterangan di RSUD R.T. Notopuro.
Subandi menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo berkomitmen penuh untuk menanggung seluruh biaya pengobatan Izzan hingga pulih total. Langkah penanganan medis, termasuk tindakan operasi berkala, dipastikan berjalan maksimal.
”Saya sudah titipkan ke Bu Direktur (RSUD R.T. Notopuro) agar anak ini bisa sembuh seperti teman-teman seusianya. Ini menjadi perhatian khusus bupati agar ananda Muhammad Izzan mendapat bantuan perawatan semaksimal mungkin,” tegasnya.
Tidak hanya fokus pada pemulihan kesehatan Izzan, Bupati Subandi juga menyoroti dampak ekonomi yang dialami oleh ayah Izzan, Mujianto. Sejak insiden tersebut, Mujianto tidak dapat bekerja secara normal karena harus mendampingi dan merawat sang anak secara penuh.
Sebagai solusi jangka pendek dan menengah, Pemkab Sidoarjo berencana memberikan fasilitas pekerjaan dengan jam kerja yang fleksibel, ditambah dengan sokongan bantuan sosial melalui Baznas Sidoarjo.
”Nanti bapaknya kita carikan pekerjaan yang mudah saja, biar ikut membantu nyapu. Habis subuh kerja, biar jam delapan pulang agar dapat merawat anaknya,” jelas Subandi mengenai skema bantuan pekerjaan tersebut.
Sementara itu, Plt. Direktur RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, dr. Prima Dessy Kusuma Rakhmawati, M.Kes., menjelaskan bahwa pihak rumah sakit sebenarnya telah mengawal proses pemulihan luka bakar Izzan selama setahun terakhir melalui serangkaian tindakan operasi dan pembersihan luka.
”Sebetulnya pasien ini sudah beberapa kali rawat inap, kemudian dilakukan operasi, pembersihan luka juga sudah. Terakhir Januari ke sini, setelah itu tidak kontrol lagi,” ungkap dr. Prima.
Ia menambahkan, luka bakar berskala besar yang dialami Izzan memerlukan penanganan medis jangka panjang dan tidak bisa diselesaikan dalam satu kali tindakan. Saat ini, fokus tim medis adalah mengatasi kekakuan pada sendi atau kontraktur yang dialami pasien akibat anggota tubuh yang lama tidak digerakkan.
”Rencana kami akan ada pembersihan luka, operasi di tangannya dan kakinya yang kaku karena lama tidak digerakkan, kontraktur namanya. Ini nanti memang membutuhkan waktu yang lama perawatannya karena operasinya bertahap,” paparnya.
Guna memastikan penanganan berjalan optimal, RSUD R.T. Notopuro telah menunjuk dokter spesialis bedah plastik sejak awal kasus ini bergulir.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin dalam merawat pasien ini karena membutuhkan waktu yang lama. Dr. Ariek Desnantika, Sp.BP-RE sudah ditugaskan untuk menangani kesembuhan M. Izzan,” pungkas dr. Prima. (*)














