MINAHASA || JDN – Integritas di tubuh Polri kembali menjadi sorotan. Aipda Vicky Katiandagho, seorang penyidik yang dikenal vokal dan berani, memutuskan untuk mundur secara terhormat dari institusi Kepolisian Republik Indonesia. Keputusan pahit ini diambil setelah dirinya dimutasi secara mendadak saat tengah mendalami kasus dugaan korupsi besar di Kabupaten Minahasa.
Sebelumnya, Aipda Vicky menjabat sebagai Kanit Pidsus Sat Reskrim Polres Minahasa. Dalam masa jabatannya, ia tengah memimpin penyelidikan kasus tindak pidana korupsi yang melibatkan sejumlah tokoh berpengaruh di daerah tersebut.
Vicky mengungkapkan bahwa pemindahannya ke Polres Kepulauan Talaud terasa janggal karena dilakukan tanpa alasan yang jelas di tengah progres penyidikan yang sedang krusial.
”Terakhir, saya sedang menangani perkara korupsi di Kabupaten Minahasa yang menjadi perhatian publik, karena melibatkan orang-orang penting di sana,” ujar Vicky dalam keterangannya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum surat mutasi tersebut keluar, timnya telah melakukan langkah-langkah hukum yang signifikan. “Penyidikannya sudah bergulir, kami telah memeriksa banyak saksi dan mengumpulkan banyak dokumen sebagai alat bukti,” tambahnya.
Bahkan, Vicky menyebutkan pihaknya telah menjalin koordinasi dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara untuk melakukan audit perhitungan kerugian negara. Namun, langkah tersebut terhambat oleh perintah mutasi yang datang tiba-tiba.
Sebagai bentuk upaya mencari keadilan administratif, polisi yang dikenal dengan penampilan khas rambut panjang ini sempat melayangkan surat kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dalam suratnya, ia memohon peninjauan ulang atas keputusan mutasi tersebut.
”Inti surat saya kepada Pak Kapolri adalah meminta peninjauan kembali mutasi saya dari Polres Minahasa ke Polres Kepulauan Talaud,” tegasnya.
Tak hanya soal jabatan, Vicky juga meminta izin untuk tetap diizinkan menyelesaikan tanggung jawabnya mengusut tuntas kasus korupsi yang sedang ia tangani agar tidak terhenti di tengah jalan.
Meski telah melakukan upaya keberatan secara prosedural, Aipda Vicky akhirnya memilih jalan untuk mengakhiri pengabdiannya lebih awal. Baginya, integritas dalam penegakan hukum tidak dapat ditawar.
Keputusannya untuk mundur secara terhormat dari Polri menjadi pesan kuat mengenai tantangan yang dihadapi penyidik di lapangan saat berhadapan dengan tembok kekuasaan. Kini, sosok yang dikenal berdedikasi ini resmi menanggalkan seragam cokelatnya, meninggalkan tanda tanya besar bagi publik mengenai kelanjutan kasus korupsi orang penting di Minahasa yang ditinggalkannya. (*)

















