Sidoarjo || JDN – Selasa, 16/6/26 Putaran waktu kembali membawa masyarakat pada gerbang transformasi spiritual yang sakral. Bertepatan dengan momentum 1 Muharram 1448 Hijriah, umat Muslim di seluruh dunia merayakan pergantian tahun baru Islam. Di Indonesia, momen spiritual ini berkaitan erat dengan denyut budaya lokal, khususnya masyarakat Jawa yang menyambutnya sebagai malam 1 Suro.
Pertemuan dua garis waktu ini bukan sekadar pergantian kalender atau perayaan seremonial belaka, melainkan sebuah esensi mendalam mengenai refleksi diri dan transformasi sosial.
Secara historis dan faktual, 1 Muharram menandai peristiwa Hijrah migrasi fisik dan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini merupakan simbol keberanian kolektif untuk meninggalkan fase keterpurukan menuju fase pembangunan peradaban yang berkeadilan.
Sementara itu, 1 Suro merupakan awal bulan pertama dalam kalender Jawa yang diinisiasi oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada abad ke-17. Secara akurat, sistem penanggalan ini merupakan hasil akulturasi yang memadukan kalender Hijriah (Islam), penanggalan Saka (Hindu), dan budaya asli Jawa.
Oleh karena itu, 1 Suro bukanlah mistisisme kosong. Secara esensial, momen ini didefinisikan sebagai reroncen (rangkaian) refleksi spiritual untuk memayu hayuning bawana menjaga kedamaian diri dan alam semesta. Hal ini diimplementasikan melalui ritual introspeksi seperti tapa bisu (menahan diri dari ucapan buruk) dan perenungan batin.
Dari pertemuan dua momentum besar ini, terdapat tiga pelajaran aktual yang patut dimaknai secara tajam dalam konteks kehidupan modern.
Hijrah hari ini tidak lagi dimaknai sebagai perpindahan tempat, melainkan transformasi perilaku. Di tengah banjir informasi, masyarakat dituntut melakukan hijrah dari penyebar hoaks menjadi agen literasi.
Tradisi mengheningkan cipta pada 1 Suro mengajarkan manusia untuk mengerem ego, khususnya di media sosial. Sebelum jempol mengetik, batin harus menyaring informasi terlebih dahulu.
Sinergi antara nilai Islam dan budaya lokal pada 1 Suro menjadi bukti faktual bahwa religiusitas dan nasionalisme tidak untuk dipertentangkan, melainkan saling menguatkan.
Menyikapi momentum sakral ini, Pemimpin Redaksi MediaJejakdigitalnusantara.com menyampaikan pesan, ucapan, dan harapan resminya kepada seluruh pembaca dan masyarakat Indonesia.
”Keluarga besar MediaJejakdigitalnusantara.com mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H dan Selamat Menyambut 1 Suro,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa momentum ini merupakan cermin besar bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh.
”Momentum ini adalah cermin besar bagi kita semua. Hijrah mengajarkan kita optimisme untuk bergerak maju, sementara 1 Suro mengingatkan kita untuk tetap membumi, menengok ke dalam ajaran budi pekerti yang luhur,” lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Pemimpin Redaksi JDN berharap pergantian tahun ini dapat menjadi titik balik dalam meningkatkan kualitas persatuan bangsa, terutama dalam menjaga ruang siber yang sehat.
”Harapan kami, di tahun yang baru ini, kita sebagai bangsa mampu melakukan hijrah kualitas meningkatkan kualitas persatuan, mempertajam daya kritis yang sehat, dan merawat jejak digital kita dengan narasi-narasi yang membangun, bukan memecah belah. Mari jadikan tahun 1448 H ini sebagai era di mana kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan kejernihan akhlak dan keluhuran budaya nusantara,” pungkasnya. (*)














