SURABAYA || JDN – Puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 tingkat Jawa Timur sekaligus HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menjadi momentum krusial untuk merefleksikan peran pers sebagai pilar demokrasi. Dihelat di Dyandra Convention Center, Surabaya, Kamis (16/4) malam, acara ini menegaskan urgensi integritas jurnalisme di tengah kepungan disrupsi digital.
Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, dalam pidatonya mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar penguasaan teknis pelaporan, melainkan sebuah mandat nurani. Ia mendorong insan pers untuk tidak hanyut dalam kecepatan digital tanpa arah.
”Teruslah menulis dengan nurani. Karena setiap kata yang dituliskan memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Semoga pers Indonesia semakin maju, berintegritas, dan selalu menjadi cahaya bagi bangsa,” tegas Lutfil di hadapan sekitar 300 undangan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PWI Pusat, Akhmad Munir, menyoroti kerentanan informasi di era media sosial. Menurutnya, PWI harus menjadi benteng profesionalisme guna memastikan publik tetap mendapatkan fakta yang jernih di tengah banjir informasi yang seringkali bias atau hoaks.
”Di tengah derasnya arus informasi, insan pers harus terus berdiri tegak menyampaikan fakta dan menjaga kepercayaan masyarakat. PWI adalah rumah untuk menjaga profesionalisme dan independensi. Kita harus merefleksikan kembali seberapa kuat kita menjaga kebenaran sebagai pilar demokrasi,” ujar Munir dalam orasinya.
Dukungan terhadap kebebasan pers juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak menyatakan bahwa relasi yang sehat antara pemerintah dan media merupakan prasyarat pembangunan yang transparan.
Emil menekankan bahwa pemerintah tidak boleh anti-kritik, selama kritik tersebut memiliki substansi yang membangun.
“Relasi yang sehat itu penting. Meskipun kritik seringkali ‘pedas’, itu adalah bumbu dalam bernegara. Kami tidak boleh mempersonalisasi substansi kritik tersebut, karena justru substansi itulah yang ikut membangun bangsa ini,” ungkapnya.
Selain penguatan idealisme, PWI Jawa Timur menunjukkan langkah konkret dalam memerhatikan stabilitas ekonomi anggotanya. Acara ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PWI Jatim dengan PT Graha Utama terkait penyediaan rumah subsidi bagi insan pers.
Langkah ini dinilai strategis untuk menjamin kesejahteraan wartawan agar dapat bekerja secara profesional tanpa bayang-bayang kesulitan finansial yang ekstrem.
Malam penganugerahan ditutup dengan PWI Awards, sebuah apresiasi bagi tokoh-tokoh yang berkontribusi signifikan pada perkembangan pers dan pembangunan Jawa Timur.
Sederet tokoh nasional turut hadir menyaksikan momentum ini, antara lain Dr. K.H. Mochamad Irfan Yusuf (Menteri Umroh dan Haji Imam Utomo (Mantan Gubernur Jatim) serta Jajaran petinggi TNI-Polri.
Hingga acara berakhir pukul 21.45 WIB, semangat transformasi nampak jelas di wajah para insan pers Jawa Timur: sebuah tekad untuk terus beradaptasi tanpa harus menggadaikan etika demi klik dan tayangan. (*)

















