SURABAYA || JDN – Hidayah dan tekad untuk memperbaiki diri tidak pernah memilih waktu maupun sosok. Perjalanan hidup Wijayanto, yang akrab disapa Limbad, menjadi cermin nyata bagaimana transformasi spiritual mampu mengubah arah hidup seseorang dari kelalaian menuju jalan dakwah yang konsisten.
Belakangan ini, pergerakan Limbad tak lagi jauh dari serambi masjid, majelis taklim, dan pondok pesantren di Surabaya. Ia tidak hanya hadir sebagai jamaah, tetapi juga mengambil peran aktif memberikan pengarahan serta motivasi keagamaan.
”Memang saya dulu tidak taat sama agama. Hidup saya jauh dari kegiatan masjid. Tapi setelah saya terjun dan mulai mendekati para ustaz, saya merasa tenang dan enak. Hati ini baru nemu damainya,” ungkap Wijayanto saat ditemui usai mengisi tausiyah di Surabaya, Minggu (16/8/2026).
Pendekatan dakwah yang dibawakan Limbad terbilang merakyat dan berbasis pada refleksi pengalaman pribadinya. Tanpa nada menggurui, materi kajiannya berfokus pada fondasi penting seperti sholat lima waktu, kesabaran menghadapi ujian hidup, kejujuran dalam berikhtiar, serta penguatan ukhuwah Islamiyah.
”Saya bukan ustadz. Saya hanya orang biasa yang sedang belajar dan ingin terus belajar. Kalau ada satu ayat atau satu nasihat yang bisa saya sampaikan dan bermanfaat untuk orang lain, itu sudah cukup buat saya,” ujarnya rendah hati.
Aksi nyata tersebut tidak berhenti di atas mimbar. Limbad terlibat langsung dalam aksi sosial, mulai dari gerakan bersih-bersih masjid, pengajian rutin, hingga santunan anak yatim dan dhuafa. Langkah perubahannya menuai apresiasi dari para tokoh agama setempat.
”Beliau ini contoh bahwa pintu taubat itu selalu terbuka. Dari kondisi yang lalai, beliau mau kembali ke masjid. Aktif, istiqomah, dan mau berbagi. Ini sosok yang patut untuk ditiru,” kata Ustadz Ahmad, pengurus majelis taklim di Surabaya.
Perjalanan hijrah Wijayanto menegaskan pesan mendasar bagi publik, kelalaian masa lalu bukan alasan untuk berhenti menuju kebaikan. Memilih istiqomah di jalan keagamaan dan sosial adalah keputusan terbaik untuk meninggalkan kenangan yang bermanfaat.
”Sekarang target saya sederhana. Bagaimana caranya mati dalam keadaan baik, dan meninggalkan jejak yang baik. Kalau bisa dengan ilmu agama ini saya bisa bikin orang lain lebih dekat ke masjid, Alhamdulillah,” tutupnya.














