TRENGGALEK || JDN – Menghadapi tantangan kekeringan ekstrem yang kerap melanda wilayahnya, Kepolisian Resor (Polres) Trenggalek mengambil langkah konkret dalam pelestarian alam. Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi Sedunia, jajaran Korps Bhayangkara ini melakukan penanaman ratusan pohon beringin secara serentak di berbagai titik lahan kritis, Kamis (23/4/2026).
Kapolres Trenggalek, AKBP Ridwan Maliki, memimpin langsung aksi penghijauan tersebut di puncak Bukit Margo Esis, Kelurahan Surodakan. Ia menegaskan bahwa aksi ini merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan sumber air bagi generasi mendatang.
”Pada kesempatan kali ini, di Margo Esis kita menanam enam buah pohon beringin. Sedangkan total seluruh pohon yang kita tanam di Kabupaten Trenggalek sebanyak 200 pohon yang tersebar serentak di 14 kecamatan,” ujar AKBP Ridwan saat ditemui di lokasi penanaman.
Pemilihan jenis pohon beringin bukanlah tanpa alasan. Pohon dengan nama latin Ficus benjamina ini dikenal memiliki karakteristik perakaran yang kuat dan mampu mengikat air tanah secara maksimal. Strategi ini diharapkan mampu memitigasi bencana hidrometeorologi di Trenggalek yang secara geografis didominasi perbukitan.
”Pohon beringin memiliki kemampuan untuk menyerap air dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga bisa mencegah terjadinya tanah longsor,” jelas Ridwan.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa fungsi ekologis beringin bertindak sebagai spons alami. “Pohon beringin juga bisa menyimpan air dalam jumlah besar, sehingga ke depan bisa menjadi sumber mata air bagi daerah di sekitarnya,” imbuhnya.
Aksi lingkungan ini, menurut Ridwan, terinspirasi dari dedikasi Mbah Sadiman, pejuang lingkungan asal lereng Gunung Lawu yang berhasil mengubah lahan gersang menjadi sumber air melimpah melalui penanaman beringin selama puluhan tahun.
”Aksi ini kami lakukan terinspirasi Mbah Sadiman dari lereng Lawu. Beliau selama puluhan tahun menanam pohon beringin di sana, dan saat ini manfaatnya dirasakan oleh masyarakat sekitarnya,” tutur Kapolres.
Polres Trenggalek menyadari bahwa dampak dari penanaman ini tidak bisa dirasakan secara instan. Diperlukan waktu sekitar 10 hingga 30 tahun agar pohon-pohon tersebut tumbuh besar dan memberikan dampak nyata terhadap ekosistem setempat.
Dengan langkah ini, diharapkan wilayah-wilayah di Trenggalek yang selama ini masuk dalam peta rawan kekeringan dapat bertransformasi menjadi kawasan subur dengan pasokan air yang berkelanjutan di masa depan. (MLDN)














