MOJOKERTO || JDN – Senin (12/1/26) Inovasi berbasis pengabdian masyarakat kembali lahir dari tangan kreatif mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Kali ini, para mahasiswa menghadirkan solusi konkret bagi pelaku UMKM jamu di Desa Selotapak melalui perancangan dan implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa Mesin Pemeras Jamu Manual.
Selama ini, para perajin jamu di Desa Selotapak masih bergantung sepenuhnya pada metode pengolahan tradisional yang sangat menguras tenaga. Proses memeras bahan baku rempah seperti jahe, kunyit, dan kencur dilakukan secara manual dengan tangan.
Metode ini tidak hanya memakan waktu lama, tetapi juga kurang efisien karena sari pati yang dihasilkan tidak maksimal, meninggalkan ampas yang masih basah dan menyisakan banyak cairan. Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi harian menjadi sangat terbatas.
Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Untag Surabaya yang terdiri dari Lucas Gempar Febria Nata Reksa (Teknik Mesin), Rizki Hidayatulloh (Teknik Mesin), Muhammad Zaki Maulidi (Teknik Industri), Muhammad Ilham Syahputra (Teknik Informatika), dan Erina Aurellia Deva (Ilmu Administrasi Negara) berkolaborasi menciptakan alat pemeras berbahan stainless steel standar pangan (food grade).
Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Mochamad Firmansyah, S.T., M.T., menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat ekonomi masyarakat.
”Penerapan teknologi tepat guna ini adalah wujud pengabdian kami untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga komunikatif dan aplikatif bagi warga desa,” ujar Mochamad Firmansyah.
Kehadiran mesin dengan mekanisme ulir yang kuat ini terbukti membawa perubahan drastis. Efisiensi operasional UMKM meningkat pesat dengan lonjakan kapasitas produksi hingga 50% dibandingkan metode tradisional. Selain lebih cepat, rendemen hasil perasan jauh lebih maksimal karena ampas yang dihasilkan sangat kering, sehingga meminimalkan pemborosan bahan baku.
Keberhasilan inovasi ini disambut haru dan antusias oleh Ibu Hartatik, salah satu mitra UMKM jamu di Desa Selotapak. Beliau mengungkapkan bahwa teknologi ini telah mengubah pola kerjanya menjadi jauh lebih ringan dan produktif.
”Dulu tangan sering pegal-pegal dan butuh waktu seharian hanya untuk memeras bahan. Sekarang, dalam hitungan jam semua sudah beres. Hasilnya pun terasa lebih berkualitas karena prosesnya bersih, sehingga kami kini bisa memenuhi pesanan dalam jumlah besar tanpa terkendala tenaga lagi,” ungkap Ibu Hartatik dengan penuh syukur.
Dengan efisiensi waktu yang tercipta, kini para mitra UMKM memiliki ruang lebih luas untuk fokus pada strategi pemasaran dan pengembangan varian produk baru, membawa harapan baru bagi peningkatan ekonomi kreatif di Desa Selotapak.(*)

















