Scroll Kebawah untuk melihat berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaBudayaDaerah

Jaga Tradisi dan Mata Air Lereng Arjuno, Komunitas Gesang Kasunyatan Gelar Selamatan Sendang Dewi Kunti

×

Jaga Tradisi dan Mata Air Lereng Arjuno, Komunitas Gesang Kasunyatan Gelar Selamatan Sendang Dewi Kunti

Sebarkan artikel ini

PASURUAN || JDN – Komunitas Gesang Kasunyatan mempertegas komitmennya dalam merawat kebudayaan Jawa sekaligus menjaga ekosistem lingkungan di kawasan lereng Gunung Arjuno. Langkah konkret ini diwujudkan melalui ritual selamatan sumber mata air Sendang Dewi Kunti yang berlokasi di Dusun Tambak Watu, Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Selasa (23/6/2026).

​Acara yang berlangsung khidmat tersebut memadukan pendekatan kultural dan ekologis. Kehadiran para anggota komunitas yang membaur bersama warga setempat menciptakan nuansa gotong royong yang kental. Ritual diisi dengan doa bersama sebagai representasi rasa syukur atas ketersediaan air bersih yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar.

​Pimpinan Komunitas Gesang Kasunyatan, Bopo Makrus, menegaskan bahwa ritual selamatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah manifestasi dalam mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang.

​”Selamatan sumber mata air ini merupakan bentuk pelestarian budaya nenek moyang yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia air yang terus mengalir dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Bopo Makrus saat ditemui di lokasi acara, Selasa (23/6/2026).

​Bopo Makrus menambahkan, Sendang Dewi Kunti memiliki nilai multidimensi bagi masyarakat lereng Arjuno—tidak hanya dari aspek ekologis, tetapi juga memiliki teologi spiritual dan kultural yang kuat. 

Menurutnya, tradisi ini adalah instrumen pengingat agar manusia modern tidak eksploitatif dan tetap berkomitmen menjaga kebersihan serta kelestarian alam.

​Di tengah gempuran modernisasi dan pergeseran sosial yang masif, Bopo Makrus menilai benteng kebudayaan lokal harus diperkuat. Nilai-nilai filosofis Jawa yang terkandung dalam tradisi ini diyakini mampu membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kosmologi atau keseimbangan antara hubungan manusia dengan pencipta, sesama, dan alam raya.

​Selain diisi dengan ritual doa, momentum ini juga dimanfaatkan sebagai ruang dialektika dan refleksi bersama. Warga diajak berdiskusi mengenai langkah-langkah konkret dalam memitigasi kerusakan lingkungan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) dan sumber mata air.

​Melalui konsistensi kegiatan ini, Komunitas Gesang Kasunyatan berharap gerakan berbasis kultural ini dapat mereplikasi kesadaran masyarakat luas. Targetnya jelas: menghidupkan kembali roh gotong royong dan meningkatkan sensitivitas publik terhadap isu-isu lingkungan.

​Dengan merawat tradisi secara berkelanjutan, warisan adiluhung di kawasan Gunung Arjuno ini diharapkan tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan warisan hidup (living heritage) bagi generasi mendatang. (MLDN)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *