GRESIK || JDN – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kepolisian Resor (Polres) Gresik memperkuat sinergi lintas sektor guna menjaga kondusivitas wilayah. Langkah tersebut diwujudkan melalui Dialog Kebangsaan bertajuk “Merawat Bhinneka Tunggal Ika, Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi dan Ruang Digital di Wilayah Kabupaten Gresik” yang berlangsung di Ruang Rupatama Sarja Arya Racana (SAR) Mapolres Gresik, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 35 peserta dari unsur pemerintah daerah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi kepemudaan (OKP), komunitas ojek online (ojol), hingga perwakilan mahasiswa ini bertujuan menyamakan persepsi dalam menghadapi tantangan di era digital.
Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution mengapresiasi kontribusi aktif seluruh elemen masyarakat dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah dinamika informasi yang bergerak cepat.
“Menjelang hari Kemerdekaan RI, kami ingin mempererat persatuan dan kesatuan. Jangan sampai Kabupaten Gresik terpecah belah akibat ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mari kita bersama-sama bersatu menjaga Bhinneka Tunggal Ika,” ujar AKBP Ramadhan Nasution.
Senada dengan Kapolres, Kabag Ops Polres Gresik Kompol Arief Sukmo Wibowo menggarisbawahi bahwa media sosial memiliki peran ganda yang sangat menentukan dalam menjaga stabilitas daerah.
“Di era digital saat ini, ruang persatuan dan perpecahan berada dalam satu genggaman. Media sosial dapat menjadi sarana yang sangat positif jika dimanfaatkan dengan bijak,” papar Kompol Arief.
Ia menambahkan, potensi besar Gresik terletak pada kolaborasi antar-elemen: intelektual mahasiswa, basis sosial ormas, mobilitas pengemudi ojol, hingga solidaritas kelompok suporter.
“Jika seluruh energi positif ini disatukan, akan menjadi kekuatan besar untuk Gresik yang aman dan damai,” imbuhnya.
Dari sudut pandang pemerintah daerah, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Gresik, Nanang Setiawan, menyoroti maraknya disinformasi dan konten provokatif di ruang digital yang berpotensi memicu konflik sosial jika diterima tanpa verifikasi. Oleh karena itu, kalangan mahasiswa didorong untuk tetap kritis dan substantif dalam menyikapi setiap informasi.
Pentingnya etika digital juga ditegaskan oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik, KH. Ainur Rofiq Thoyyib. Mengacu pada Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017, ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan ghibah, fitnah, adu domba (namimah), ujaran kebencian, maupun penyebaran hoaks.
“Motto kita adalah ‘Satu Gresik, Berbeda Pilihan, Tetap Bersaudara’. Tugas kita hari ini adalah merawat dan menjaga apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa,” tutur KH. Ainur Rofiq.
Dukungan serupa disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Gresik, Dr. KH. Mulyadi. Ia mengajak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi secara konstruktif dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum terverifikasi kebenarannya.
Dialog ini turut dihadiri perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), BAMAG, PGIS, PHDI, LDII, GP Ansor, Pemuda Pancasila, GRIB Jaya, Madas, serta pengurus BEM dan organisasi mahasiswa seperti PMII, HMI, dan IMM se-Kabupaten Gresik.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua MUI Kabupaten Gresik dan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen kolektif dalam merawat persaudaraan dan menjaga Kabupaten Gresik tetap aman, harmonis, serta kondusif. (MLDN/Berdy)














