SANGKAPURA, GRESIK || JDN -Masyarakat Desa Bululanjang, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, kembali menggelar tradisi tahunan Rasol pada Senin (26/1/2026). Ritual turun-temurun ini menjadi simbol permohonan keselamatan pertanian sekaligus upaya pelestarian budaya di tengah modernitas.
Tradisi Rasol merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang dilaksanakan sesaat setelah proses tanam padi usai. Warga berkumpul untuk memanjatkan doa bersama dengan harapan tanaman padi terhindar dari serangan hama dan penyakit, sehingga mampu menghasilkan panen yang melimpah.
Keunikan utama Rasol terletak pada ritual mandi laut. Tidak hanya warga, ratusan hewan ternak juga digiring ke pesisir untuk dimandikan. Ritual ini diyakini sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari segala marabahaya.
Kepala Desa Bululanjang, Umar, mengungkapkan bahwa antusiasme warga tahun ini tetap tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah ternak yang dilibatkan dalam ritual tersebut.
“Alhamdulillah, pada Rasol tahun ini ada sekitar 130 ekor sapi yang dimandikan ke laut. Ini merupakan simbol harapan agar ternak warga selalu sehat dan dijauhkan dari penyakit,” ujar Umar saat memberikan sambutan di lokasi kegiatan.
Umar menegaskan bahwa Rasol bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan wujud kearifan lokal yang mengedepankan nilai syukur, kebersamaan, serta keharmonisan antara manusia dengan alam.
Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi akbar bagi masyarakat Bawean. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Camat Sangkapura, jajaran Forkopimcam, serta Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Sangkapura menambah kekhidmatan acara yang dihadiri ratusan warga tersebut.
Bagi warga lokal, tradisi ini adalah bagian dari identitas yang tak terpisahkan. Hamidun (30), salah seorang warga, menyebutkan bahwa sensasi kebersamaan dalam Rasol memberikan kekuatan moral bagi para petani.
“Rasol ini hanya ada di Pulau Bawean. Setelah selesai tanam padi, kami berkumpul untuk mendoakan tanaman, lalu mandi ke laut sambil memandikan sapi, dengan harapan hama dan penyakit ikut hilang,” tutur Hamidun.
Ia menambahkan bahwa peran pemuda sangat penting untuk memastikan warisan leluhur ini tidak punah.
“Semua warga terlibat. Bukan hanya soal padi dan ternak, tapi soal kebersamaan dan menjaga tradisi leluhur,” imbuhnya.
Pemerintah Desa Bululanjang berharap melalui pelaksanaan rutin setiap tahun, tradisi Rasol dapat terus terjaga sebagai kekayaan budaya Bawean yang mampu menarik perhatian luas sekaligus menjadi identitas yang dibanggakan oleh generasi mendatang.(Jumali)














