SIDOARJO || JDN – Minggu (8/2/26) Sembilan Februari kembali menyapa. Namun, Hari Pers Nasional (HPN) 2026 bukan sekadar seremoni pengulangan tahunan.
Di tengah lanskap informasi yang kian bising oleh penetrasi Kecerdasan Buatan (AI) dan hegemoni platform global, pers Indonesia kini berdiri di persimpangan krusial: tetap teguh menjaga idealisme atau sekadar berjuang untuk bertahan hidup.
Tema HPN tahun ini, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, menghujam langsung ke jantung persoalan jurnalisme modern. Pers yang sehat tak lagi cukup didefinisikan sebagai kebebasan dari pembungkaman penguasa, melainkan kesehatan etika, integritas, dan ketahanan terhadap polusi informasi. Di tahun 2026, tantangan eksistensial bukan lagi sensor pemerintah, melainkan sensor algoritma dan ancaman manipulasi deepfake.
Ketika AI mampu memproduksi narasi dalam hitungan detik, peran jurnalis sebagai gatekeeper (penjaga gerbang informasi) adalah harga mati yang tak bisa ditawar.
Pers yang sehat adalah pers yang menolak larut dalam arus clickbait demi mengejar trafik sesaat. Di sinilah disiplin verifikasi menjadi pembeda antara jurnalisme sejati dengan sekadar konten digital.
”Pers harus tetap setia pada disiplin verifikasi, bukan ikut-ikutan hanyut dalam arus informasi yang dangkal,” tegas esensi pemikiran dalam peringatan HPN kali ini.
Mustahil bicara kualitas jurnalistik jika dapur redaksi sedang megap-megap. Data di lapangan menunjukkan tekanan ekonomi pada media konvensional kian mencekik akibat migrasi belanja iklan ke raksasa digital global.
Kedaulatan ekonomi media merupakan syarat mutlak bagi independensi. Langkah pemerintah dan Dewan Pers dalam memperkuat implementasi Publisher Rights serta mendorong model bisnis berbasis langganan (subscription) harus diakselerasi.
Tanpa kemandirian finansial, pers akan menjadi rapuh dan mudah terkooptasi oleh kepentingan pemilik modal besar atau kekuatan politik yang ingin menyetir opini publik.
Sejarah telah menggariskan pers sebagai pilar keempat demokrasi. Di tengah ketidakpastian global 2026, bangsa yang kuat membutuhkan masyarakat yang tercerahkan, bukan massa yang terbelah oleh disinformasi yang terstruktur.
Pers memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjadi kompas di tengah badai informasi. Saat masyarakat mulai jenuh dan kehilangan kepercayaan pada media sosial akibat polusi informasi, media arus utama (mainstream) wajib hadir sebagai rujukan yang valid, jernih, dan kredibel.
Selamat Hari Pers Nasional 2026. Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik memperkuat ekosistem media yang sehat. Sebab, pada akhirnya, hanya pers yang berdaulat dan berintegritaslah yang mampu menjaga kewarasan bangsa ini.(*)











