Scroll Kebawah untuk melihat berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaOpini

KETIKA SANG PENULIS JEDA BERKARYA

×

KETIKA SANG PENULIS JEDA BERKARYA

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sidoarjo || JDN – MENULIS  merupakan aktivitas kognitif sekaligus spiritual. Pada fase tertentu, seorang penulis mengalami jeda ketika kata tidak lagi mudah dirangkai.

Dalam kajian psikologi kognitif, kondisi ini kerap berkaitan dengan kelelahan mental. Otak mengalami kejenuhan akibat paparan informasi berlebih dan tekanan produktivitas.

Example 300x600

Proses berpikir kreatif membutuhkan ruang inkubasi. Tanpa jeda, kemampuan asosiasi kata dan makna melemah.

Dari sudut neurolinguistik, bahasa bekerja optimal saat pikiran berada dalam kondisi tenang. Stres dan emosi negatif menghambat kelancaran pemilihan diksi.

Mandegnya kata sering muncul ketika penulis memaksa hasil tanpa memberi waktu pematangan gagasan. Dalam tradisi sufistik, keadaan ini dipahami sebagai isyarat batin. Jiwa meminta perhatian sebelum kata kembali diturunkan.

Kaum pemikir memandang diam sebagai fase penting dalam perjalanan kesadaran. Sunyi membuka ruang bagi kejernihan rasa. Saat hati penuh kegelisahan, bahasa kehilangan cahaya. Kata menunggu beningnya niat.

Pendekatan ilmiah menyarankan penulis mengelola ritme kerja. Pola membaca, menulis, dan beristirahat perlu diseimbangkan.

Membaca lintas disiplin memperkaya jaringan pengetahuan dan memperluas asosiasi makna. Ilmu pengetahuan memberi struktur pada gagasan.

Sementara itu, sastra dan pengalaman hidup memberi kedalaman emosional pada bahasa. Mencatat kosakata baru, istilah ilmiah, serta ungkapan kultural membantu memperluas perbendaharaan diksi secara sistematis.

Latihan menulis reflektif tanpa target publikasi melatih keluwesan berpikir dan kejujuran bahasa. Pendekatan sufistik mengajarkan tazkiyah batin. Membersihkan niat menulis menjadi fondasi penting bagi kelahiran kata.

Dzikir, doa, dan tafakur membantu menenangkan pusat kesadaran. Dari ketenangan, bahasa kembali menemukan arah. Dalam keadaan batin yang lapang, kata hadir tanpa paksaan dan tanpa kegaduhan ego.

Ilmu memberi ketajaman analisis, sementara sufisme memberi kelembutan rasa. Keduanya saling melengkapi dalam proses kreatif. Mandegnya diksi lalu berubah menjadi fase pembelajaran, bukan kegagalan.

Penulis belajar menghargai jeda sebagai bagian dari disiplin intelektual dan spiritual. Ketika keluasan wawasan bertemu kejernihan batin, tulisan lahir dengan daya hidup yang lebih kuat.

Pada akhirnya, menulis tidak hanya harus terus memperkaya wawasan ,tapi juga menuntut kecakapan bahasa, serta kesediaan merawat akal dan jiwa. Dari keseimbangan inilah kata kembali mengalir, tenang, bermakna, dan menyentuh nurani. (*)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *